Selasa, 26 Februari 2019

Makalah Pendidikan Agama Islam (Hijrah Rasul)


I.                   PENDAHULUAN
Setelah berbagai hambatan dan gangguan dan juga siksaan pula dari kaum Quraisy yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga dan ummat muslim, dan nabi muhammad menganjurkan kepada sahabat dan para pengikutnya untuk menghindar dari gangguan tersebut  dengan berhijrah ke negeri Habasyah (Etiopia), atas anjuran tersebut berangkatlah rombongan ke Habasyah yang pertama yang terdiri dari 10 laki-laki dan 4 perempuan dan disusul rombongan selanjutnya hingga mencapai hampir seratus orang,
Dan sesampai mereka di Habasyah mereka juga mendapat sambutan yang baik dari penduduk sana termasuk dari Rajanya sendiri, sehingga para kaum muslim disana diberi kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-sebaiknya.
Dan dilanjut hijrah kaum muslim dan Rosullullah SAW menuju Madinah yang mana disana juga banyak sekali  gangguan yang didapat oleh Rosulullah SAW, sahabat dan juga para kaum muslim lainya, juga kejadian yang hampir merenggut nyawa Rosul dan para sahabat lainya, sampai para kaum Quraisy membentuk rencana untuk mengepung Rosulullah SAW dirumah beliau, dan dilanjutkan pindahnya beliau ke gua bersama sahabatnya Abu-Bakar.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana latar belakang terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
B.     Bagaimana terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
C.     Apa saja hikmah dan pelajaran dari terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?

III.             PEMBAHASAN
A.    Latar belakang terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW
1.      Tekanan, pengaiayaan dan ancaman
         Sejak melakukan dakwah secara terang-terangan, Rasulullah dan para pengikutnya senantiasa mendapat tekanan, penganiayaan, dan ancaman dari kaum kafirin Mekah. Maka dari itu, beliau berusaha mencari perlindungan atau jaminan keamanan keluar Mekah. Seperti sebelumnya, ketika situasi dan kondisi Mekah semakin sulit untuk berdakwah dan tidak menjamin kemanan diri,  beliau memerintahkan para pengikutnya untuk berhijrah ke Habasyah, lalu Thaif (beliau lakukan sendiri), dan ke Madinah.
      Penganiayaan dan penyiksaan fisik yag dilancarkan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin mereda pada pertengahan atau akhir tahun ke-4 kenabian, lalu gencar kembali mulai pertengahan tahun ke-5. Dari hari ke hari, dari  bulan ke bulan, penyiksaan dan penganiayaan terus terjadi tiada henti. Akibatnya, kaum Muslimin tidak betah lagi tinggal di Mekah. Mereka mulai berfikir tentang cara yang harus mereka tempuh untuk keluar dari keadaan yang mencekam dan menakutkan itu.
Dalam kondisi yang sangat sulit ini, surah al-Kahfi diturunkan Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik kepada Rasulullah. Keseluruhan jawaban itu terbagi dalam tiga kisah yang di dalamnya terkandung isyarat sangat jelas tetang apa yang harus dilakukan hamba-hamba yang beriman untuk menghadapi situasi sulit tersebut. Kisah al-kahfi misalnya, mengisyaratkan kepada kaum mukminin untuk berhijrah (meninggalkan) wilayah orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah bila mereka khawatir akan terjadi bencana pada agamanya. Namun demikian, semua itu harus dilakukan dengan tawakal kepada Allah. Jadi, latar belakang keharusan kaum Muslimin saat itu untuk berhijrah ke Habasyah bertujuan untuk menyelamatkan agama mereka dari negeri yang penuh dengan tekanan menuju negeri yang aman.
2.      Adanya jaminan keamanan (perlindungan) bagi kelangsungan dakwah Islam
Faktor ini dapat dipahami dari beberapa pasal Bai’at Aqabah II yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir.
3.      Pendustaan kaum Quraisy terhadap Muhammad dan ajarannya
Para pembesar Quraisy dan kaumnya selalu mendustakan Rasulullah dan memaksa beliau mendakwahkan ajarannya kepada kaum lain yang mau mempercayainya.
4.      Kekhawatiran akan terjadinya petaka bagi agama
Hal ini terlihat jelas pada jawaban Aisyah r.a. ketika ditanya tentang hijrah. Ia berkata, “kaum beriman lari dengan membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut akan terjadi bencana terhadap (agama)nya”.
5.      Diizinkannya kaum Muslimin untuk berperang
Peperangan yang dilakukan kaum Muslimin hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Itu sebabnya mereka rela dan siap menanggung penderitaan fisik maupun mental dan meninggalkan sanak saudara, keluarga, dan negeri mereka. Tentang hal ini, Khabab r.a. pernah berkata “kami berhijrah bersama Rasulullah hanya demi mendapatkann ridha Allah. Oleh karena itu, semua pahala kami serahkan kepada Allah”.[1]
Adapun peperangan di dalam Islam dimaksudkan hanya berkisar pada usaha melakukan tindakan defensif dan perlinduungan diri dari serangan dan permusuhan. Juga untuk melindungi dakwah dan membangun kemerdekaan beragama.[2]
B.     Terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
1.      Hijrah Ke Habasyah
Berbagai tekanan yanh dilancarkan orang-orang Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari nubuwwah, terutama diarahkan kepada prang-orang yang lemah. Mereka mulai berfikir untuk keluar dari dari siksaan yang pedih ini. Rasulullah SAW sudah tahu  bahwa Ashhamah An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tak bakal ada seorangpun teraniyaya disisinya. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah, melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya. Dan sekelompok yang pertama kali hijrah ke Habasyah terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita, yang dipimpin oleh Utsman bin Affan, dalam rombongan ini pula Sayyidah Ruqayyah, putri Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah dijalan Allah setelah Ibrahim dan Luth”.
Pada bulan Ramadhan ditahun yang sama, Nabi SAW keluar dari Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul disana. Beliau berdiri dihadapan mereka dan membacakan surat An-Najm. Orang-orang kafiur itu tidak pernah mendengarkan kalam Allah yang seperti itu sebelumnya .



“Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)”. (An-Najm: 62)
Merekapun sujud. Tak seorangpun mampu menguasai diri. Dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud. Namun setelah itu siksaan dan penindasan yang ditimpakan orang-orang Quraisy terhadap orang-orang muslim semakin menjadi-jadi. Nabi SAW tidak melihat cara lain kecuali memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah yang kedua. Pada hijrah ini terjadi pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib, dan mengancamnya. Ancaman ini cukup menggetarkannya. Maka ia mengirim utusan untuk menemui Rasul.
Dalam Hijrah yang kedua ini Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam diakhir bulan ke enam dari nubuwah, pada bulan Dzul-Hijjah dan dilanjutkan keIslaman Umar bin khatab tepatnya setelah 3 hari keislaman Hamzah.
2.      Hijrah Ke Thaif
Rasulullah kembali memikirkan tentang basis tempat yang akan memberi perlindungan kepada agama Islam. Beliau keluar menuju Thaif dan mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Namun, mereka menolak dan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Orang-orang yang bodoh di kalangan mereka mengejek dan memperolok-oloknya. Mereka melempari Rasulullah dengan batu hingga kedua kakinya berdarah. Maka, beliau pun berlindung di kebun milik Syaibah dan ‘Utbah bin Rabi’ah. Setelah itu beliau keluar dari Thaif. Pada saat itulah Allah mengutus malaikat Gunung untuk menjatuhkan dua gunung kepada penduduk Mekah. Namun, Rasulullah menolaknya.
3.      Hijrah Ke Madinah
Hijrah ini bukan sekedar mengabaikan kepentingan, mengorbankan harta banda dan menyelamatlan diri semata, setelah hak mereka banyak yang dirampas. Tetapi bisa saja mereka akan mengalami kebinasaan pada permulaan hijrah itu atau pada akhirnya. Hijrah ini juga menggambarkan sebuah perjalanan ke masa depan yang serba mengambang, tidak diketahui duka lara apa yang akan menyusul dikemudian hari. Sekalipun orang-orang muslim menyadari semua ini, toh mereka tetap mulai berhijrah. Sementara orang-orang musyrik berusaha untuk menghalangi agar orang-orang Muslim supaya tidak bisa keluar dari Makkah. Sebab jika hal ini diberikan, mereka menyadari akibatnya dikemudian hari.[3]
Setelah ada ketetapan yang bulat untuk menghabisi Nabi SAW, jibril turun kepada beliau membawa wahyu dari Allah, seraya mengabarkan persekongkolan Quraisy dan bahwa Allah sudah mengizinkan beliau untuk pergi serta menetapkan waktu hijrah, seraya berkata, “Janganlah engkau tidur ditempat tidurmu malam ini seperti biasanya.” Abu Bakar berkata, “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminannya. Demi Allah beliau tidak menemuiku pada saat-saat seperti ini kecuali karena ada urusan yang penting.”
Setelah tiba didepan rumah abu bakar, beliau meminta izin, lalu masuk rumah setelah Abu Bakar mengizinkanya. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar “Pergilah dari tempatmu ini”. “ini suatu kehendak yang justru bisa mengakibatkan kematian. Demi ayahku menjadi jaminanmu wahai Rosulullah, apakah aku harus menyertai engkau?” tanya Abu Bakar. “Ya” jawab Rosulullah.
Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali lagi ke rumahnya sambil menunggu datangnya malam. Siang itu para pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan Parlemen Makkah di Darun-Nadwah pada pagi harinya. Untuk melaksanakan rencana ini diutuslah 11 orang terkemuka yaitu: Abu Jahal bin Hisyam, Al-Hakam bin Abul-Ash, Uqbah bin Mu’aith, An-Nadhar bin Al-Harist, Umayyah bin Khalaf, Zam’ah bin Al-Aswad, Thu’aimah bin Ady, Abu lahab, Ubay bin Khalaf, Nubih bin Al-Hajjaj, Munabbih Al-Hajjaj.
Ibnu Ishaq menuturkan, “Pada permulaan malam itu mereka berkumpul didepan pintu rumah beliau, mengintip saat beliau sedang tidur lalu menghampirinya.”
Sekalipun orang-orang Quraisy sudah mempersiapkan secara matang untuk melaksanakan rencana mereka, tetap saja mereka gagal total. Pada ssat-saat yang kritis itu Rosulullah SAW berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah diatas tempat tidurku , berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari Hadhramaut ini. Tidurlah dengan berselimut mantel itu. Sesungguhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan” Biasanya Rasul mengguankan itu untuk tidur.
Kemudian Rasulullah SAW keluar dari rumah menyibak kepungan mereka. Beliau memungut segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala mereka. Sesungguhnya Allah telah membutakan mereka, sehingga mereka tidak bisa melihat beliau. Beliau menaburkan pasir dikepala setiap orang diantara mereka, lalu pergi ke rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur.[4]
Rasul meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar 14 nubuwah menuju rumah rekan sejatinya. Abu Bakar r.a., lalu berdua mereka meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dar Makkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing.
Rasulullah SAW menyadari sepenuhnya bahwa tentunya orang-orang Quraisy akan mencari mereka mati-matian dan jalur satu-satunya yang mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Untuk itu beliau justru mengambul jalur yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah ke Yaman dari Makkah ke Arah selatan. Beliau menempuh jalan ini sekitar lima mil hingga tida disebuah gunung yaitu gunung Tsaur.
Sesampai dimulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah engkau masuk kedalamnya sebelum aku masuk terdahulu. Bila ada sesuatu yang tidak beres biar saja aku yang kena, asal tidak mengenai engkau” Lalu Abu Bakar masuk gua dengan menyisihkan kotoran yang menghalkanginyaDi sebelahnya dia mendapat lubang. Dia merobek mantelnya menjadi dua bagian dan mengikatnya ke lubang itu Robekan satunya lagi ia balutkan ke kakinya. Setelah itu Abu bakar berkata pada beliau “Masuklah!” dan akhirnya Rasulullah pun masuk ke dalam, setelah mangambil tempat didalam gua, beliau segera merebahkan kepalanya dipangkuan Abu Bakar dan tertidur. Tiba-tiba Abu Bakar disengat binatang dari lubang, namun dia tak berani bergerak, karena takut membangunkan tidur Rasulullah SAW. Dengan menahan rasa sakit air matanya menetes ke wajah beliau “Apa yang terjadi wahai Abu Bakar?” tanya beliau. Abu bakar menjawab “Demi Ayah dan Ibuku menjadi jaminanmu, aku digigit binatang.” Rosulullah SAW meludahi bagian yang digigit sehingga hilang rasa sakitnya. Mereka berdua bersembunyi didalam gua selama 3 malam pada hari Jumat, Sabtu, dan malam Ahad.[5]
Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan setelah 3 hari gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun, tanpa membawa hasil apa pun, Rasulullah dan rekanya bersiap-siap menuju Madinah. Mereka berdua mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang petunjuk jalan yang sudah matang dan mengetahui seluk beluk jalan. Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang kafir Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya dan menyerahkan 2 ekor unta kepadanya. Setelah 3 malam didalam gua daia meminta untuk datang ke gua dengan membewa 2 ekor unta itu. Maka pada malam senin 16 September 622 M, Abdullah bin Uraiqith datang ke gua. Pada saat itu Abu Bakar berkata. “Demi Ayahku menjadi jaminan, wahai Rasulullah, ambilah satu untaku ini” dia memilih onta yang paling bagus untuk beliau. Selanjutnya Rasulullah SAW berangkat bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah, Abdullah bin Uraiqith yang menjadi petunjuk jalan mengambil jalan pesisir.
Jalan yang pertama kali ditempuh adalah ke arah selatan menuju jalan Yaman, baru setelah itu mengarah ke barat menuju pesisir, hingga setelah tiba dijalan yang tidak bisa dilalui orang, perjalanan diarahkan ke utara dekat pesisir Laut Merah. Ini merupakan perjalanan yang jarang dilalui orang.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dia berkata “ semalaman kami mengadakan perjalanan nonstop hingga tengah hari. Jalanan sepi dan tak seorangpun yang lewat disana. Kami mendapatkan batu besar. Disisinya tidak terkena sinar matahari sehingga bisa untuk berteduh. Kami singgah ditempat itu.
Diantara kebiasaan Abu Bakar adalah membonceng dibelakang Nabi SAW, sementara dia adalah orang tua yang sudah banyak dikenal, sedangkan beliau lebih muda dan belum dikenal banyak orang. Ditengah perjalanan itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Bakar “ Siapakah yang didepanmu itu?” Abu Bakar menjawab “Dia adalah orang yang menunjukan jalan kepadaku” dan orang itu mengira yang dimaksudnya adalah petunjuk perjalanan padahal yang dimaksud Abu Bakar petunjuk kebaikan.[6] Ditengah perjalanan Rasulullah juga bertemu dengan Az-Zubair yang sudah masuk islam, beserta sekumpulan kalifah dagang yang pulang dari Syam, Az Zubair memberikan kain putih kepada beliau dan Abu Bakar.[7]
Dan setelah itu beliau berada di Quba’ selama 4 hari disana beliau membangun masjid Quba’ dan shalat didalamnya. Inilah masjid pertama yang didirikan atas dasar taqwa setelah nubuwwah. Pada hari jumat beliau melanjutkan perjalanan, dan Abu Bakar membonceng dibelakang beliau. Shalat jumat dilaksanakan di Bani Salim bin Auf. Seusai shalat jumat Nabi SAW memasuki Madinah, sejak itulah Yastrib dinamakan Madinatur-Rasul SAW yang kemudian disingkat Madinah. Inilah hari yang sangat monumental. Semua rumah dan jalan ramai dengan suarah tahmid dan taqdis. Sementara anak-anak gadis mereka mendendangkan bait-bait syair karena senang dan gembira.[8]
C.    Hikmah dan pelajaran dari terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW
1.      Hijrahnya sebagian Muslimin ke Habasyah merupakan bukti di syariatkannya hijrah, yaitu pindah dari negeri kafir (negeri yang tidak memberikan kebebasan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT) ke negeri lain yang memungkinkan mereka untuk beribadah kepada Allah secara leluasa dan merdeka.
2.      Salah satu pondasi tiang agama adalah rela mengorbankan harta, Negara, dan jiwa di jalan Allah. Bila aama sirna, semua itu (harta, Negara, dan jiwa) tidak aka nada manfaatnya, bahkan cepat binasa dan sirna dari seorang hamba. Adapun bila agama kokoh berdiri di suatu Negara dan pada diri seseorang, segala sesuatu yang pernah dikorbankan di jalan Allah, baik harta, tanah, ataupun Negara akan kembali ke tangan seorang hamba dalam keadaan lebih baik dan lebih banyak. Singkatnya, hijrah tak lain merupakan bagian dari siksaan dan cobaan di jalan Allah, pengorbanan seorang hamba atas Negara dan hartanya, sekaligus juga upaya mengganti cobaan yang berat dengan cobaan yang lain yang lebih ringan sambil menanti datangnya kemenangan yang dijanjikan.
3.      Kaum muslimin di perbolehkan mencari perlindungan kepada orang-orang non Muslim apabila memang sangat diperlukan. Dalam hal ini, tidak ada kategori non Muslim khusus yang boleh kita mintai perlindungan. Artinya, kita boleh mencari perlindungan kepada siapa saja. Bisa kepada penguasa beragaa Kristen seperti Najasyi, ataupun kepada orang-orang musyrik seperti beberapa musyrikin Mekah yang memberi perlindungan kepada sejumlah orang Islam. [9]
4.      Bila sebuah Negara non Muslim mampu melindungi dan memberikan kebebasan kepada seorang Muslim untuk menjalankan ajaran agama dan dakwahnya, seorang Muslim yang menetap di sana lebih baik tetap tinggal di sana. ia tidak berkewajiban untuk hijrah, sebab Negara yang ditempatinya sudah mengakomodir tuntunan Islam. Dengan kata lain, tetap tinggal di dalamnya adalah lebih utama daripada pergi meninggalkannya. Apabila bila ia masih punya harapan ada warga non Muslim yang tertarik untuk memeluk agama Islam.
5.      Rasulullah tetap menggunakan beragam cara, siasat, dan upaya yang muncul dari pemikiran akalnya untuk memperlancar pelaksanaan perintah agung ini. Namun, perlu dicatat bahwa semua itu bukan semata-mata karena beliau mengkhawatirkan keselamatan nyawanya atau karena takut tertangkap oleh kaum musyrikin. Semua itu beliau lakukan untuk memberi contoh kepada umatnya, yakni berikhtiar dan melakukan berbagai cara yang diperlukan untuk meraih suatu tujuan atau keberhasilan. Dari sini beliau juga mengajarkan bahwa sunnatullah menetapkan terjadinya sesuatu karena adanya upaya atau ikhtiar. Beliau tidak hanya yakin pada upaya sendiri, tetapi juga yakin adanya perlindungan dan taufik Allah. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Mereka harus senantiasa menyandarkan dan menyerahkan urusan kepada Allah, dengan tetap mengusahakann semaksimal mungkin ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuannya.
6.      Kesediaan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringan Rasulullah pada malam beliau hijrah tak lain merupakan suatu tindakan luhur yang membuktikan besarnya keimanan dan keberaniannya. Peristiwa ini juga mengisyaratkan bahwa kaum Muslimin diperbolehkan melakukan tipu daya terhadap musuh (kaum kafir) sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan diri.
7.      Tercatat nama beberapa anak muda yang memiliki peran penting dalam melancarkan pelaksanaan hijrah Rasulullah ini. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan putri-putri Abu Bakar r.a. Peran-peran seperti itu harus dicontoh oleh generasi muda Islam dewasa ini.
8.      Karakter dari beberapa mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya untuk melindungi dan mengiringi perjalanan hijrah beliau saaat itu masih seperti mukjizat beliau lainnya, yaitu sebagai penghormatan Allah kepada Nabi-Nya. Pada sisi lain, sejumlah mukjizat juga mengisyaratkan bahwa Allah adalah penolong beliau dan Zat yang akan menjayakan agama-Nya di muka bumi ini, cepat atau lambat.
9.      Peran yang dijalankan olehh Abu Bakar r.a dalam hijrah merupakan jasa besar yang sangat dihargai oleh Allah. Maka dari itu, sangat wajar bila Allah memuliakannya dengan mengabdikan perannya itu dalam firman-Nya QS. At-Taubah: 40,
žwÎ) çnrãÝÁZs? ôs)sù çnt|ÁtR ª!$# øŒÎ) çmy_t÷zr& tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 šÎT$rO Èû÷üoYøO$# øŒÎ) $yJèd Îû Í$tóø9$# øŒÎ) ãAqà)tƒ ¾ÏmÎ7Ås»|ÁÏ9 Ÿw ÷btøtrB žcÎ) ©!$# $oYyètB ( tAtRr'sù ª!$# ¼çmtGt^Å6y Ïmøn=tã ¼çny­ƒr&ur 7ŠqãYàfÎ/ öN©9 $yd÷rts? Ÿ@yèy_ur spyJÎ=Ÿ2 šúïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 4n?øÿ¡9$# 3 èpyJÎ=Ÿ2ur «!$# šÏf $uù=ãèø9$# 3 ª!$#ur îƒÍtã íOŠÅ3ym ÇÍÉÈ  
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

10.     Seperti disebutkan dalam kisahnya, Abu Ayyub dan istrinya selalu berusaha mendapatkan berkah dari sisa makanan Rasulullah. di lain pihak, Rasulullah sama sekali tidak melarang keduanya. Fakta ini mengisyaratkan kepada kita untuk mencari berkah dari sisa-sisa atau peninggalan-peninggalan Rasulullah apabila masih ada.[10]

IV.             PENUTUP
A.    Kesimpulan
Latar belakang terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAWyaitu adanya tekanan, penganiayaan dan ancaman dari orang-orang Quraisy, adanya jaminan keamanan (perlindungan) bagi kelangsungan dakwah Islam, pendustaan kaum Quraisy terhadap Muhammad dan ajarannya, kekhawatiran akan terjadinya petaka bagi agama, dan diizinkannya kaum Muslimin untuk berperang.
Hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun kelima kenabian Rasulullah. Pemimpin mereka adalah Utsman bin Mazh’un.  Mereka mendapat perlakuan yang sangat baik dan tinggal selama beebrapa bulan. Kemudian kembali lagi lagi ke Mekah tatkala mereka mendengar bahwa orang-orang Quraisy telah masuk Islam, tapi ternyata itu hanya tipuan. Selanjutnya, hijrah ke Habasyah kedua dipimpin Ja’far bin Abi Thalib. Hijrah yang kedua ini Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam diakhir bulan ke enam dari nubuwah, pada bulan Dzul-Hijjah dan dilanjutkan keIslaman Umar bin khatab tepatnya setelah 3 hari keislaman Hamzah.
Rasulullah kembali memikirkan tentang basis tempat yang akan memberi perlindungan kepada agama Islam. Beliau keluar menuju Thaif dan mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Namun, mereka menolak dan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras.
Hijrah ke Madinah, diawali Rasul meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar 14 nubuwah menuju rumah rekan sejatinya. Abu Bakar r.a., lalu berdua mereka meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dar Makkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing. Rasulullah SAW menyadari sepenuhnya bahwa tentunya orang-orang Quraisy akan mencari mereka mati-matian dan jalur satu-satunya yang mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Untuk itu beliau justru mengambul jalur yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah ke Yaman dari Makkah ke Arah selatan. Beliau menempuh jalan ini sekitar lima mil hingga tida disebuah gunung yaitu gunung Tsaur.
Hikmah dan pelajaran dari terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW, yaitu: bukti di syariatkannya hijrah, ialah pindah dari negeri kafir (negeri yang tidak memberikan kebebasan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT) ke negeri lain yang memungkinkan mereka untuk beribadah kepada Allah secara leluasa dan merdeka, salah satu pondasi tiang agama adalah rela mengorbankan harta, Negara, dan jiwa di jalan Allah, kaum muslimin di perbolehkan mencari perlindungan kepada orang-orang non Muslim apabila memang sangat diperlukan, bila sebuah Negara non Muslim mampu melindungi dan memberikan kebebasan kepada seorang Muslim untuk menjalankan ajaran agama dan dakwahnya, seorang Muslim yang menetap di sana lebih baik tetap tinggal di sana, kaum Muslimin harus senantiasa menyandarkan dan menyerahkan urusan kepada Allah, dengan tetap mengusahakann semaksimal mungkin ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuannya, kaum Muslimin diperbolehkan melakukan tipu daya terhadap musuh (kaum kafir) sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan diri, Allah adalah penolong Rasul dan Zat yang akan menjayakan agama-Nya di muka bumi ini, cepat atau lambat, dan mencari berkah dari sisa-sisa atau peninggalan-peninggalan Rasulullah apabila masih ada.
B.     Saran
Demikianlah makalah yang penulis susun, kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.



[1] Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, (Jakarta: Qisthi, 2005), hlm. 315-317.
                                                                               
[2] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2013), hlm. 107.
[3] Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Al-Kautsar, 2012), hlm. 173.
[4] Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 183.
[5] Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … ,  hlm. 184-185.
[6] Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 188.
[7] Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 191.
[8] Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … ,  hlm. 193.
[9] Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, … ,  hlm. 251
[10]  Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, … ,  hlm. 355-359.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar