I.
PENDAHULUAN
Setelah berbagai hambatan dan gangguan dan juga siksaan pula dari
kaum Quraisy yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga dan ummat
muslim, dan nabi muhammad menganjurkan kepada sahabat dan para pengikutnya
untuk menghindar dari gangguan tersebut
dengan berhijrah ke negeri Habasyah (Etiopia), atas anjuran tersebut
berangkatlah rombongan ke Habasyah yang pertama yang terdiri dari 10 laki-laki
dan 4 perempuan dan disusul rombongan selanjutnya hingga mencapai hampir
seratus orang,
Dan sesampai mereka di Habasyah mereka juga mendapat sambutan yang
baik dari penduduk sana termasuk dari Rajanya sendiri, sehingga para kaum
muslim disana diberi kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-sebaiknya.
Dan dilanjut hijrah kaum muslim dan Rosullullah SAW menuju Madinah
yang mana disana juga banyak sekali
gangguan yang didapat oleh Rosulullah SAW, sahabat dan juga para kaum
muslim lainya, juga kejadian yang hampir merenggut nyawa Rosul dan para sahabat
lainya, sampai para kaum Quraisy membentuk rencana untuk mengepung Rosulullah
SAW dirumah beliau, dan dilanjutkan pindahnya beliau ke gua bersama sahabatnya
Abu-Bakar.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Bagaimana latar belakang terjadinya hijrah
kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
B. Bagaimana
terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
C. Apa saja
hikmah dan pelajaran dari terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW?
III.
PEMBAHASAN
A.
Latar belakang terjadinya hijrah kaum
muslimin dan Rasulullah SAW
1.
Tekanan, pengaiayaan dan ancaman
Sejak melakukan dakwah secara terang-terangan, Rasulullah dan para
pengikutnya senantiasa mendapat tekanan, penganiayaan, dan ancaman dari kaum
kafirin Mekah. Maka dari itu, beliau berusaha mencari perlindungan atau jaminan
keamanan keluar Mekah. Seperti sebelumnya, ketika situasi dan kondisi Mekah
semakin sulit untuk berdakwah dan tidak menjamin kemanan diri, beliau memerintahkan para pengikutnya untuk
berhijrah ke Habasyah, lalu Thaif (beliau lakukan sendiri), dan ke Madinah.
Penganiayaan
dan penyiksaan fisik yag dilancarkan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin
mereda pada pertengahan atau akhir tahun ke-4 kenabian, lalu gencar kembali
mulai pertengahan tahun ke-5. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, penyiksaan dan penganiayaan
terus terjadi tiada henti. Akibatnya, kaum Muslimin tidak betah lagi tinggal di
Mekah. Mereka mulai berfikir tentang cara yang harus mereka tempuh untuk keluar
dari keadaan yang mencekam dan menakutkan itu.
Dalam kondisi yang sangat sulit ini, surah
al-Kahfi diturunkan Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan
oleh orang-orang musyrik kepada Rasulullah. Keseluruhan jawaban itu terbagi
dalam tiga kisah yang di dalamnya terkandung isyarat sangat jelas tetang apa
yang harus dilakukan hamba-hamba yang beriman untuk menghadapi situasi sulit
tersebut. Kisah al-kahfi misalnya, mengisyaratkan kepada kaum mukminin untuk
berhijrah (meninggalkan) wilayah orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah bila
mereka khawatir akan terjadi bencana pada agamanya. Namun demikian, semua itu
harus dilakukan dengan tawakal kepada Allah. Jadi, latar belakang keharusan
kaum Muslimin saat itu untuk berhijrah ke Habasyah bertujuan untuk
menyelamatkan agama mereka dari negeri yang penuh dengan tekanan menuju negeri
yang aman.
2. Adanya
jaminan keamanan (perlindungan) bagi kelangsungan dakwah Islam
Faktor ini dapat dipahami dari beberapa
pasal Bai’at Aqabah II yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir.
3. Pendustaan
kaum Quraisy terhadap Muhammad dan ajarannya
Para pembesar Quraisy dan kaumnya selalu
mendustakan Rasulullah dan memaksa beliau mendakwahkan ajarannya kepada kaum
lain yang mau mempercayainya.
4. Kekhawatiran
akan terjadinya petaka bagi agama
Hal ini terlihat jelas pada jawaban Aisyah
r.a. ketika ditanya tentang hijrah. Ia berkata, “kaum beriman lari dengan
membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut akan terjadi bencana
terhadap (agama)nya”.
5. Diizinkannya
kaum Muslimin untuk berperang
Peperangan yang dilakukan kaum Muslimin
hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Itu sebabnya mereka rela dan siap
menanggung penderitaan fisik maupun mental dan meninggalkan sanak saudara,
keluarga, dan negeri mereka. Tentang hal ini, Khabab r.a. pernah berkata “kami
berhijrah bersama Rasulullah hanya demi mendapatkann ridha Allah. Oleh karena
itu, semua pahala kami serahkan kepada Allah”.[1]
Adapun peperangan di dalam Islam
dimaksudkan hanya berkisar pada usaha melakukan tindakan defensif dan
perlinduungan diri dari serangan dan permusuhan. Juga untuk melindungi dakwah
dan membangun kemerdekaan beragama.[2]
B.
Terjadinya hijrah kaum muslimin dan
Rasulullah SAW?
1.
Hijrah Ke Habasyah
Berbagai tekanan yanh dilancarkan orang-orang Quraisy dimulai pada
pertengahan atau akhir tahun keempat dari nubuwwah, terutama diarahkan kepada
prang-orang yang lemah. Mereka mulai berfikir untuk keluar dari dari siksaan
yang pedih ini. Rasulullah SAW sudah tahu
bahwa Ashhamah An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang
raja yang adil, tak bakal ada seorangpun teraniyaya disisinya. Oleh karena itu
beliau memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah, melepaskan
diri dari cobaan sambil membawa agamanya. Dan sekelompok yang pertama kali
hijrah ke Habasyah terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita, yang
dipimpin oleh Utsman bin Affan, dalam rombongan ini pula Sayyidah Ruqayyah,
putri Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah
penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah dijalan Allah setelah Ibrahim dan
Luth”.
Pada bulan Ramadhan ditahun yang sama, Nabi SAW keluar dari
Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul
disana. Beliau berdiri dihadapan mereka dan membacakan surat An-Najm.
Orang-orang kafiur itu tidak pernah mendengarkan kalam Allah yang seperti itu
sebelumnya .
“Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)”. (An-Najm: 62)
Merekapun
sujud. Tak seorangpun mampu menguasai diri. Dan mereka semua merunduk dalam
keadaan sujud. Namun setelah itu siksaan dan penindasan yang ditimpakan
orang-orang Quraisy terhadap orang-orang muslim semakin menjadi-jadi. Nabi SAW
tidak melihat cara lain kecuali memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah
yang kedua. Pada hijrah ini terjadi pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib, dan
mengancamnya. Ancaman ini cukup menggetarkannya. Maka ia mengirim utusan untuk
menemui Rasul.
Dalam Hijrah yang kedua ini Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam
diakhir bulan ke enam dari nubuwah, pada bulan Dzul-Hijjah dan dilanjutkan
keIslaman Umar bin khatab tepatnya setelah 3 hari keislaman Hamzah.
2.
Hijrah Ke Thaif
Rasulullah kembali memikirkan tentang basis
tempat yang akan memberi perlindungan kepada agama Islam. Beliau keluar menuju
Thaif dan mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Namun, mereka
menolak dan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Orang-orang yang
bodoh di kalangan mereka mengejek dan memperolok-oloknya. Mereka melempari
Rasulullah dengan batu hingga kedua kakinya berdarah. Maka, beliau pun
berlindung di kebun milik Syaibah dan ‘Utbah bin Rabi’ah. Setelah itu beliau
keluar dari Thaif. Pada saat itulah Allah mengutus malaikat Gunung untuk
menjatuhkan dua gunung kepada penduduk Mekah. Namun, Rasulullah menolaknya.
3. Hijrah Ke
Madinah
Hijrah ini bukan sekedar mengabaikan kepentingan, mengorbankan
harta banda dan menyelamatlan diri semata, setelah hak mereka banyak yang
dirampas. Tetapi bisa saja mereka akan mengalami kebinasaan pada permulaan
hijrah itu atau pada akhirnya. Hijrah ini juga menggambarkan sebuah perjalanan
ke masa depan yang serba mengambang, tidak diketahui duka lara apa yang akan
menyusul dikemudian hari. Sekalipun orang-orang muslim menyadari semua ini, toh
mereka tetap mulai berhijrah. Sementara orang-orang musyrik berusaha untuk
menghalangi agar orang-orang Muslim supaya tidak bisa keluar dari Makkah. Sebab
jika hal ini diberikan, mereka menyadari akibatnya dikemudian hari.[3]
Setelah ada ketetapan yang bulat untuk menghabisi Nabi SAW, jibril
turun kepada beliau membawa wahyu dari Allah, seraya mengabarkan persekongkolan Quraisy
dan bahwa Allah sudah mengizinkan beliau untuk pergi serta menetapkan waktu
hijrah, seraya berkata, “Janganlah engkau tidur ditempat tidurmu malam ini
seperti biasanya.” Abu Bakar berkata, “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminannya. Demi
Allah beliau tidak menemuiku pada saat-saat seperti ini kecuali karena ada
urusan yang penting.”
Setelah tiba didepan rumah abu bakar, beliau meminta izin, lalu
masuk rumah setelah Abu Bakar mengizinkanya. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu
Bakar “Pergilah dari tempatmu ini”. “ini suatu kehendak yang justru bisa mengakibatkan kematian. Demi
ayahku menjadi jaminanmu wahai Rosulullah, apakah aku harus menyertai engkau?”
tanya Abu Bakar. “Ya” jawab Rosulullah.
Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali
lagi ke rumahnya sambil menunggu datangnya malam. Siang itu para
pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang sudah
ditetapkan Parlemen Makkah di Darun-Nadwah pada pagi harinya. Untuk
melaksanakan rencana ini diutuslah 11 orang terkemuka yaitu: Abu Jahal bin
Hisyam, Al-Hakam bin Abul-Ash, Uqbah bin Mu’aith, An-Nadhar bin Al-Harist,
Umayyah bin Khalaf, Zam’ah bin Al-Aswad, Thu’aimah bin Ady, Abu lahab, Ubay bin
Khalaf, Nubih bin Al-Hajjaj, Munabbih Al-Hajjaj.
Ibnu Ishaq menuturkan, “Pada permulaan malam itu mereka berkumpul
didepan pintu rumah beliau, mengintip saat beliau sedang tidur lalu
menghampirinya.”
Sekalipun orang-orang Quraisy sudah mempersiapkan secara matang untuk
melaksanakan rencana mereka, tetap saja mereka gagal total. Pada ssat-saat yang
kritis itu Rosulullah SAW berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah diatas
tempat tidurku , berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari
Hadhramaut ini. Tidurlah dengan berselimut mantel itu. Sesungguhnya engkau
tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan” Biasanya Rasul
mengguankan itu untuk tidur.
Kemudian Rasulullah SAW keluar dari rumah menyibak kepungan mereka. Beliau
memungut segenggam pasir dan menaburkannya ke kepala mereka. Sesungguhnya Allah
telah membutakan mereka, sehingga mereka tidak bisa melihat beliau. Beliau
menaburkan pasir dikepala setiap orang diantara mereka, lalu pergi ke rumah Abu
Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur.[4]
Rasul meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar 14 nubuwah
menuju rumah rekan sejatinya. Abu Bakar r.a., lalu berdua mereka meninggalkan
rumah dari pintu belakang untuk keluar dar Makkah secara tergesa-gesa sebelum
fajar menyingsing.
Rasulullah SAW menyadari sepenuhnya bahwa tentunya orang-orang
Quraisy akan mencari mereka mati-matian dan jalur satu-satunya yang mereka
perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Untuk itu
beliau justru mengambul jalur yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah ke Yaman
dari Makkah ke Arah selatan. Beliau menempuh jalan ini sekitar lima mil hingga
tida disebuah gunung yaitu gunung Tsaur.
Sesampai dimulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah
engkau masuk kedalamnya sebelum aku masuk terdahulu. Bila ada sesuatu yang
tidak beres biar saja aku yang kena, asal tidak mengenai engkau” Lalu Abu Bakar
masuk gua dengan menyisihkan kotoran yang menghalkanginyaDi sebelahnya dia
mendapat lubang. Dia merobek mantelnya menjadi dua bagian dan mengikatnya ke
lubang itu Robekan satunya lagi ia balutkan ke kakinya. Setelah itu Abu bakar
berkata pada beliau “Masuklah!” dan akhirnya Rasulullah pun masuk ke dalam,
setelah mangambil tempat didalam gua, beliau segera merebahkan kepalanya
dipangkuan Abu Bakar dan tertidur. Tiba-tiba Abu Bakar disengat binatang dari
lubang, namun dia tak berani bergerak, karena takut membangunkan tidur Rasulullah SAW.
Dengan menahan rasa sakit air matanya menetes ke wajah beliau “Apa yang terjadi
wahai Abu Bakar?” tanya beliau. Abu bakar menjawab “Demi Ayah dan Ibuku menjadi
jaminanmu, aku digigit binatang.” Rosulullah SAW meludahi bagian yang digigit
sehingga hilang rasa sakitnya. Mereka berdua bersembunyi didalam gua selama 3
malam pada hari Jumat, Sabtu, dan malam Ahad.[5]
Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan setelah 3 hari
gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun, tanpa membawa hasil apa pun, Rasulullah dan
rekanya bersiap-siap menuju Madinah. Mereka berdua
mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang petunjuk jalan yang sudah matang dan
mengetahui seluk beluk jalan. Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang
kafir Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya dan menyerahkan 2 ekor unta
kepadanya. Setelah 3 malam didalam gua daia meminta untuk datang ke gua dengan
membewa 2 ekor unta itu. Maka pada malam senin 16 September 622 M, Abdullah bin
Uraiqith datang ke gua. Pada saat itu Abu Bakar berkata. “Demi Ayahku menjadi
jaminan, wahai Rasulullah, ambilah satu untaku ini” dia
memilih onta yang paling bagus untuk beliau. Selanjutnya Rasulullah SAW
berangkat bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah, Abdullah bin Uraiqith yang
menjadi petunjuk jalan mengambil jalan pesisir.
Jalan yang pertama kali ditempuh adalah ke arah selatan menuju
jalan Yaman, baru setelah itu mengarah ke barat menuju pesisir, hingga setelah
tiba dijalan yang tidak bisa dilalui orang, perjalanan diarahkan ke utara dekat
pesisir Laut Merah. Ini merupakan perjalanan yang jarang dilalui orang.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dia berkata “
semalaman kami mengadakan perjalanan nonstop hingga tengah hari. Jalanan sepi
dan tak seorangpun yang lewat disana. Kami mendapatkan batu besar. Disisinya
tidak terkena sinar matahari sehingga bisa untuk berteduh. Kami singgah
ditempat itu.
Diantara kebiasaan Abu Bakar adalah membonceng dibelakang Nabi SAW,
sementara dia adalah orang tua yang sudah banyak dikenal, sedangkan beliau
lebih muda dan belum dikenal banyak orang. Ditengah perjalanan itu ada seorang
laki-laki bertanya kepada Abu Bakar “ Siapakah yang didepanmu itu?” Abu Bakar
menjawab “Dia adalah orang yang menunjukan jalan kepadaku” dan orang itu
mengira yang dimaksudnya adalah petunjuk perjalanan padahal yang dimaksud Abu
Bakar petunjuk kebaikan.[6] Ditengah
perjalanan Rasulullah juga bertemu dengan Az-Zubair yang sudah masuk islam,
beserta sekumpulan kalifah dagang yang pulang dari Syam, Az Zubair memberikan
kain putih kepada beliau dan Abu Bakar.[7]
Dan setelah itu beliau berada di Quba’ selama 4 hari disana beliau membangun masjid Quba’ dan shalat
didalamnya. Inilah masjid pertama yang didirikan atas dasar taqwa setelah
nubuwwah. Pada hari jumat beliau melanjutkan perjalanan, dan Abu Bakar
membonceng dibelakang beliau. Shalat jumat dilaksanakan di Bani Salim bin Auf.
Seusai shalat jumat Nabi SAW memasuki Madinah, sejak itulah Yastrib dinamakan
Madinatur-Rasul SAW yang kemudian disingkat Madinah. Inilah hari yang
sangat monumental. Semua rumah dan jalan ramai dengan suarah tahmid dan taqdis.
Sementara anak-anak gadis mereka mendendangkan bait-bait syair karena senang
dan gembira.[8]
C. Hikmah dan pelajaran dari
terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW
1. Hijrahnya
sebagian Muslimin ke Habasyah merupakan bukti di syariatkannya hijrah, yaitu
pindah dari negeri kafir (negeri yang tidak memberikan kebebasan untuk
melakukan ibadah kepada Allah SWT) ke negeri lain yang memungkinkan mereka
untuk beribadah kepada Allah secara leluasa dan merdeka.
2. Salah satu
pondasi tiang agama adalah rela mengorbankan harta, Negara, dan jiwa di jalan
Allah. Bila aama sirna, semua itu (harta, Negara, dan jiwa) tidak aka nada
manfaatnya, bahkan cepat binasa dan sirna dari seorang hamba. Adapun bila agama
kokoh berdiri di suatu Negara dan pada diri seseorang, segala sesuatu yang
pernah dikorbankan di jalan Allah, baik harta, tanah, ataupun Negara akan
kembali ke tangan seorang hamba dalam keadaan lebih baik dan lebih banyak.
Singkatnya, hijrah tak lain merupakan bagian dari siksaan dan cobaan di jalan
Allah, pengorbanan seorang hamba atas Negara dan hartanya, sekaligus juga upaya
mengganti cobaan yang berat dengan cobaan yang lain yang lebih ringan sambil
menanti datangnya kemenangan yang dijanjikan.
3. Kaum
muslimin di perbolehkan mencari perlindungan kepada orang-orang non Muslim
apabila memang sangat diperlukan. Dalam hal ini, tidak ada kategori non Muslim
khusus yang boleh kita mintai perlindungan. Artinya, kita boleh mencari
perlindungan kepada siapa saja. Bisa kepada penguasa beragaa Kristen seperti
Najasyi, ataupun kepada orang-orang musyrik seperti beberapa musyrikin Mekah
yang memberi perlindungan kepada sejumlah orang Islam. [9]
4. Bila sebuah
Negara non Muslim mampu melindungi dan memberikan kebebasan kepada seorang
Muslim untuk menjalankan ajaran agama dan dakwahnya, seorang Muslim yang
menetap di sana lebih baik tetap tinggal di sana. ia tidak berkewajiban untuk
hijrah, sebab Negara yang ditempatinya sudah mengakomodir tuntunan Islam.
Dengan kata lain, tetap tinggal di dalamnya adalah lebih utama daripada pergi
meninggalkannya. Apabila bila ia masih punya harapan ada warga non Muslim yang
tertarik untuk memeluk agama Islam.
5. Rasulullah
tetap menggunakan beragam cara, siasat, dan upaya yang muncul dari pemikiran
akalnya untuk memperlancar pelaksanaan perintah agung ini. Namun, perlu dicatat
bahwa semua itu bukan semata-mata karena beliau mengkhawatirkan keselamatan
nyawanya atau karena takut tertangkap oleh kaum musyrikin. Semua itu beliau
lakukan untuk memberi contoh kepada umatnya, yakni berikhtiar dan melakukan
berbagai cara yang diperlukan untuk meraih suatu tujuan atau keberhasilan. Dari
sini beliau juga mengajarkan bahwa sunnatullah menetapkan terjadinya
sesuatu karena adanya upaya atau ikhtiar. Beliau tidak hanya yakin pada upaya
sendiri, tetapi juga yakin adanya perlindungan dan taufik Allah. Ini merupakan
pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Mereka harus senantiasa menyandarkan dan
menyerahkan urusan kepada Allah, dengan tetap mengusahakann semaksimal mungkin
ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuannya.
6. Kesediaan
Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringan Rasulullah pada malam beliau
hijrah tak lain merupakan suatu tindakan luhur yang membuktikan besarnya
keimanan dan keberaniannya. Peristiwa ini juga mengisyaratkan bahwa kaum
Muslimin diperbolehkan melakukan tipu daya terhadap musuh (kaum kafir) sebagai
bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan diri.
7. Tercatat
nama beberapa anak muda yang memiliki peran penting dalam melancarkan
pelaksanaan hijrah Rasulullah ini. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan
putri-putri Abu Bakar r.a. Peran-peran seperti itu harus dicontoh oleh generasi
muda Islam dewasa ini.
8. Karakter
dari beberapa mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya untuk
melindungi dan mengiringi perjalanan hijrah beliau saaat itu masih seperti
mukjizat beliau lainnya, yaitu sebagai penghormatan Allah kepada Nabi-Nya. Pada
sisi lain, sejumlah mukjizat juga mengisyaratkan bahwa Allah adalah penolong
beliau dan Zat yang akan menjayakan agama-Nya di muka bumi ini, cepat atau
lambat.
9. Peran yang
dijalankan olehh Abu Bakar r.a dalam hijrah merupakan jasa besar yang sangat
dihargai oleh Allah. Maka dari itu, sangat wajar bila Allah memuliakannya
dengan mengabdikan perannya itu dalam firman-Nya QS. At-Taubah: 40,
wÎ) çnrãÝÁZs? ôs)sù çnt|ÁtR ª!$# øÎ) çmy_t÷zr& tûïÏ%©!$# (#rãxÿ2 ÎT$rO Èû÷üoYøO$# øÎ) $yJèd Îû Í$tóø9$# øÎ) ãAqà)t ¾ÏmÎ7Ås»|ÁÏ9 w ÷btøtrB cÎ) ©!$# $oYyètB ( tAtRr'sù ª!$# ¼çmtGt^Å6y Ïmøn=tã ¼çnyr&ur 7qãYàfÎ/ öN©9 $yd÷rts? @yèy_ur spyJÎ=2 úïÏ%©!$# (#rãxÿ2 4n?øÿ¡9$# 3 èpyJÎ=2ur «!$# Ïf $uù=ãèø9$# 3 ª!$#ur îÍtã íOÅ3ym ÇÍÉÈ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka
Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir
(musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari
dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada
temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta
kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan
membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan
orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi.
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
10. Seperti
disebutkan dalam kisahnya, Abu Ayyub dan istrinya selalu berusaha mendapatkan
berkah dari sisa makanan Rasulullah. di lain pihak, Rasulullah sama sekali
tidak melarang keduanya. Fakta ini mengisyaratkan kepada kita untuk mencari
berkah dari sisa-sisa atau peninggalan-peninggalan Rasulullah apabila masih
ada.[10]
IV.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Latar belakang terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAWyaitu
adanya tekanan, penganiayaan dan ancaman dari orang-orang Quraisy, adanya
jaminan keamanan (perlindungan) bagi kelangsungan dakwah Islam, pendustaan kaum
Quraisy terhadap Muhammad dan ajarannya, kekhawatiran akan terjadinya petaka
bagi agama, dan diizinkannya kaum Muslimin untuk berperang.
Hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun
kelima kenabian Rasulullah. Pemimpin mereka adalah Utsman bin Mazh’un. Mereka mendapat perlakuan yang sangat baik dan
tinggal selama beebrapa bulan. Kemudian kembali lagi lagi ke Mekah tatkala
mereka mendengar bahwa orang-orang Quraisy telah masuk Islam, tapi ternyata itu
hanya tipuan. Selanjutnya, hijrah ke Habasyah kedua dipimpin Ja’far bin Abi
Thalib. Hijrah yang kedua ini Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam diakhir
bulan ke enam dari nubuwah, pada bulan Dzul-Hijjah dan dilanjutkan keIslaman
Umar bin khatab tepatnya setelah 3 hari keislaman Hamzah.
Rasulullah kembali memikirkan tentang basis
tempat yang akan memberi perlindungan kepada agama Islam. Beliau keluar menuju
Thaif dan mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Namun, mereka
menolak dan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras.
Hijrah ke Madinah, diawali Rasul meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar 14 nubuwah
menuju rumah rekan sejatinya. Abu Bakar r.a., lalu berdua mereka meninggalkan
rumah dari pintu belakang untuk keluar dar Makkah secara tergesa-gesa sebelum
fajar menyingsing. Rasulullah SAW menyadari sepenuhnya bahwa tentunya
orang-orang Quraisy akan mencari mereka mati-matian dan jalur satu-satunya yang
mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Untuk
itu beliau justru mengambul jalur yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah ke
Yaman dari Makkah ke Arah selatan. Beliau menempuh jalan ini sekitar lima mil
hingga tida disebuah gunung yaitu gunung Tsaur.
Hikmah dan pelajaran dari terjadinya hijrah kaum muslimin dan Rasulullah SAW, yaitu: bukti di
syariatkannya hijrah, ialah pindah dari negeri kafir (negeri yang tidak
memberikan kebebasan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT) ke negeri lain
yang memungkinkan mereka untuk beribadah kepada Allah secara leluasa dan
merdeka, salah satu pondasi tiang agama adalah rela mengorbankan harta, Negara,
dan jiwa di jalan Allah, kaum muslimin di perbolehkan mencari perlindungan
kepada orang-orang non Muslim apabila memang sangat diperlukan, bila sebuah
Negara non Muslim mampu melindungi dan memberikan kebebasan kepada seorang
Muslim untuk menjalankan ajaran agama dan dakwahnya, seorang Muslim yang
menetap di sana lebih baik tetap tinggal di sana, kaum Muslimin harus
senantiasa menyandarkan dan menyerahkan urusan kepada Allah, dengan tetap
mengusahakann semaksimal mungkin ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai
tujuannya, kaum Muslimin diperbolehkan melakukan tipu daya terhadap musuh (kaum
kafir) sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan diri, Allah adalah penolong Rasul
dan Zat yang akan menjayakan agama-Nya di muka bumi ini, cepat atau lambat, dan
mencari berkah dari sisa-sisa atau peninggalan-peninggalan Rasulullah apabila
masih ada.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang penulis susun, kami menyadari bahwa
makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun
kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
[1] Mahdi
Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan
Sumber-sumber yang Otentik, (Jakarta: Qisthi, 2005), hlm. 315-317.
[2]
Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Hingga Abad XX, (Jakarta:
Akbar Media, 2013), hlm. 107.
[3]
Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Al-Kautsar,
2012), hlm. 173.
[4]
Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 183.
[5]
Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 184-185.
[6]
Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 188.
[7]
Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 191.
[8]
Syaifurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, … , hlm. 193.
[9]
Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis
Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, … , hlm. 251
[10] Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah:
Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, … , hlm. 355-359.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar